Mereka yang Remaja di Brawijaya

Tjatetan Ketjil

Nostalgila di sekolah pria yang mengusir sepi. Sekali laki-laki tetap laki-laki.

BEL tanda masuk telah bersungut sejak tadi. Para murid baru sudah duduk di ruang kelasnya masing-masing. Tapi selasar sekolah pagi itu masih disesaki orangtua siswa yang mengantar. Mungkin inilah pagi yang membikin orangtua cemas sekaligus menaruh harap. Tapi bagi ratusan siswa baru di sini, inilah pagi pertama mereka sebagai siswa SMU Pangudi Luhur (PL).

“Orangtua silakan keluar. Anak Anda sudah dititipkan di Pangudi Luhur. Percayakan pada kami,” seru Bruder Honoratus, seorang guru senior, seperti ditirukan Irto Rachman. “Kira-kira aman ‘kan (setelah itu)? Kagak!” kenang Irto. Karena setelah itu, siswa senior kelas dua dan tiga menghampiri dan menggedor-gedor jendela kelas dengan keras.

Bagi siswa kelas satu, suasana terang saja gaduh. Juga mencekam. Tapi guru yang berdiri di depan kelas hanya bergeming, dengan sesekali tersenyum geli. Dan rasa takut pun semakin bertumpuk-tumpuk. Ngeri.

Ya, di tempat ini, sejarah seakan berulang…

Lihat pos aslinya 3.138 kata lagi

Iklan

Dan pada akhirnya aku merindu jalan pulang…
Pulang dengan tangan kosong dan tanpa sempat menggapaimu seutuhnya…
Aku akan menemuimu sekali lagi, entah kapan… sampai kau percaya bahwa aku ada di mimpimu… Di hadapanmu…

Aksamala.Polka

Telah kudengar gema itu
Pertanyaan dari gua hatimu
Pada kata akhir aku menjawab
Karena talu yang kuletakan di telingaku
Mungkin takan pernah memuaskan indramu
Namun dahaga yang kita rasa akan selalu ada
Walaupun yang tersisa hanya racun, tetap ku reguk pahitnya, dan kunikmati sakitnya, dan kuingat namanya, namamu.

_Pestolaer